Wednesday, 27 January 2016

KEPERCAYAAN KEPADA ALAM

by bennyfasak  |  in Stories at  13:02


Kepercayaan masyarakat suku Lio kepada kekuatan alam tidak terlepas dari unsur mitos yang menjadi identitas budaya. Mitos berisi tentang sejumlah kepercayaan terhadap hal - hal gaib yang sulit diterima secara logis. Mitos membatasi tindakan manusia. Mitos menimbulkan keberanian tetapi dapat pula menimbulkan ketakutan bagi masyarakat yang meyakini keberadaannya. Mitos merupakan model untuk bertindak yang selanjutnya berfungsi untuk memberikan makna dan nilai bagi kehidupan kepercayaan masyarakat suku Lio, tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Taman Nasional Danau Kelimutu. Danau kelimutu dikenal
dengan nama ”danau tiga warna” karena di tempat ini terdapat tiga buah kawah dengan warna yang berbeda – beda. Danau kelimutu merupakan ikon kota Ende, karena melalui tempat wisata inilah, kota Ende pulau Flores dan Nusa Tenggara Timur dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu " yang berarti mendidih. Jadi kelimutu adalah gunung yang mendidih.
Menurut kepercayaan penduduk setempat, Kelimutu memiliki arti masing - masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Danau ini memiliki tiga warna yang setiap saat selalu berubah - ubah. Perubahan warna pada danau kelimutu dihubungkan dengan situasi sosial politik dalam negeri. Melalui perubahan warna yang terjadi pada danau kelimutu, masyarakat setempat dapat meramal atau memprediksi peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Selain memiliki fungsi pariwisata karena banyak dikunjungi turis domestik maupun manca negara, danau kelimutu pun memiliki fungsi mistik yang diyakini oleh penduduk setempat khususnya masyarakat suku Lio sebagai penduduk asli. Melalui danau ini, masyarakat suku Lio dapat berkominikasi dengan para leluhur mereka yang telah meninggal. Hingga kini, penduduk sekitar gunung Kelimutu percaya bahwa mereka dapat melakukan kontak dengan arwah orang tua atau leluhur mereka dengan memanggil nama orang tua atau leluhurnya sebanyak tiga kali di depan Tiwu Ata Mbupu (danau berwarna biru diyakini bersemayam roh para orang tua). Menurut kepercayaan, setelah pemanggilan dilakukan, biasanya arwah orang tuanya atau leluhur akan datang dan memberikan petunjuk melalui mimpi. Kontak dengan orang tua/leluhur tersebut biasa dilakukan untuk mendapatkan petunjuk apabila terjadi musibah, seperti kehilangan barang atau ternak. Orang Lio percaya adanya hidup sesudah mati. Setiap roh yang meninggal akan pergi ke danau Kelimutu. Sebelum mencapai puncak gunun, roh harus melewati penjaga gerbang suci, Pere Konde yang sangat sakti. Mereka  yang menentukan tujuan roh – roh tersebut pada tiga danau yang berlainan warna. Apabila orang yang meninggal masih berusia muda rohnya akan menuju danau yang berwarna hijau yang dalam bahasa daerah disebut “ tiwu ata muwa muri koo fai” atau danau untuk pemuda dan pemudi. Letak danau ini bersebelahan dengan danau yang berwarna merah darah yang disebut “tiwu ata Polo” artinya danau untuk penyihir. Pere Konde akan mengirim roh orang jahat, tukang teluh, santet atau suwanggi dan pembunuh ke danau merah. Agak terpisah dari kedua danau itu terdapat satu danau yang dulu berwarna putih susu, namun sekarang berwarna biru tua disebut sebagai danau “Tiwu Ata Mbupu” atau danau untuk orang tua
Masyarakat ini mendiami wilayah pegunungan kabupaten Ende. Karakter wilayah pegunungan yang terletak di Ende yakni  kering dan gersang sehingga sangat menyulitkan masyarakat untuk memperoleh air bersih. Keadaan alam ini secara langsung memengaruhi masyarakat setempat untuk bekerja keras mempertahankan hidupnya. Sebagian besar penduduk suku Lio yang menghuni wilayah pegunungan bermatapencaharian sebagai petani dan menggantungkan hidup pada alam. Curah hujan yang rendah di musin kemarau, membuat masyarakat harus bekerja ekstra mencari air untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bagi masyarakat suku ini, air bukanlah barang yang murah dan mudah didapat.  Selain karakter kerja keras, masyarakat suku Lio memiliki kepribadian yang ramah. Keramahan masyarakat suku Lio tampak dalam bentuk ucapan maupun perlakuan yang ditujukan kepada orang lain. Keramahan sikap masyarakat dalam bentuk komunikasi lisan terkadang menimbulkan kesan terlalu terbuka/blak - blakan, bagi mereka yang bukan berasal dari wilayah Flores. Komunikasi yang terbuka ini merupakan bagian dari keramahan masyarakat setempat. Kesederhanaan hidup merupakan salah satu ciri masyarakat tradisional yang bermukim di wilayah pedesaan. Kesederhana tidak sama dengan kemiskinan. Kesederhanaan hidup adalah cara menjalani hidup dengan tidak berkelimpahan atau berlebihan tetapi menikmati apa yang ada dengan penuh keikhlasan hati. Konsep kesederhanaan ini dapat ditemui dalam kehidupan masyarakat suku Lio.
Kesederhanaan masyarakat suku Lio tampak dalam bentuk pola pikir maupun pola sikap. Kesederhanaan pola sikap masyarakat suku Lio tampak dalam keseharian mereka yang selalu merasa bersyukur dan menjalani hidup sesuai dengan kemampuan dan potensi diri yang ada, dan tidak pernah merasa kekurangan. Maka tidak mengherankan jika antara anggota masyarakat saling mengasihi dan menyayangi. Saling berbagi antar anggota kelompok tampak dalam kehidupan mereka. Ikatan batin yang kental antara anggota komunitas sangat erat, dikarenakan oleh fakta kekerabatan atau hubungan kekeluargaan. Salah satu kepribadian yang menonjol dalam diri setiap individu adalah sikap pasrah. Sikap pasrah yang dimaksud, bukanlah sikap malas ataupun sikap tidak mau berusaha, tetapi sikap pasrah yang dimaksud adalah sikap menerima dan bersyukur segala sesuatu yang dimiliki. Sikap ini, menuntun masyarakat ini hidup damai tanpa merasa ada persaingan dalam hidup. Sikap ini pula yang membatasi masyarakat ini untuk mengendalikan rasa ketidak puasan dalam hidup. Kesamaan konsep tentang nilai oleh anggota masyarakat membentuk kesamaan sikap.

0 komentar:

Powered by Blogger.
Proudly Powered by Blogger.