Kepercayaan masyarakat suku Lio kepada
kekuatan alam tidak terlepas dari unsur mitos yang menjadi identitas budaya.
Mitos berisi tentang sejumlah kepercayaan terhadap hal - hal gaib yang sulit
diterima secara logis. Mitos membatasi tindakan manusia. Mitos menimbulkan
keberanian tetapi dapat pula menimbulkan ketakutan bagi masyarakat yang
meyakini keberadaannya. Mitos merupakan model untuk bertindak yang selanjutnya berfungsi
untuk memberikan makna dan nilai bagi kehidupan kepercayaan masyarakat suku Lio,
tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Taman Nasional Danau Kelimutu. Danau
kelimutu dikenal
dengan nama ”danau tiga warna” karena di tempat ini terdapat
tiga buah kawah dengan warna yang berbeda – beda. Danau kelimutu merupakan ikon
kota Ende, karena melalui tempat wisata inilah, kota Ende pulau Flores dan Nusa
Tenggara Timur dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Kelimutu
merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu
" yang berarti mendidih. Jadi kelimutu adalah gunung yang mendidih.
Menurut kepercayaan penduduk setempat,
Kelimutu memiliki arti masing - masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat
dahsyat. Danau ini memiliki tiga warna yang setiap saat selalu berubah - ubah.
Perubahan warna pada danau kelimutu dihubungkan dengan situasi sosial politik
dalam negeri. Melalui perubahan warna yang terjadi pada danau kelimutu,
masyarakat setempat dapat meramal atau memprediksi peristiwa yang akan terjadi pada
masa mendatang. Selain memiliki fungsi pariwisata karena banyak dikunjungi
turis domestik maupun manca negara, danau kelimutu pun memiliki fungsi mistik
yang diyakini oleh penduduk setempat khususnya masyarakat suku Lio sebagai
penduduk asli. Melalui danau ini, masyarakat suku Lio dapat berkominikasi
dengan para leluhur mereka yang telah meninggal. Hingga kini, penduduk sekitar
gunung Kelimutu percaya bahwa mereka dapat melakukan kontak dengan arwah orang tua
atau leluhur mereka dengan memanggil nama orang tua atau leluhurnya sebanyak
tiga kali di depan Tiwu Ata Mbupu (danau
berwarna biru diyakini bersemayam roh para orang tua). Menurut kepercayaan,
setelah pemanggilan dilakukan, biasanya arwah orang tuanya atau leluhur akan datang
dan memberikan petunjuk melalui mimpi. Kontak dengan orang tua/leluhur tersebut
biasa dilakukan untuk mendapatkan petunjuk apabila terjadi musibah, seperti
kehilangan barang atau ternak. Orang Lio percaya adanya hidup sesudah mati.
Setiap roh yang meninggal akan pergi ke danau Kelimutu. Sebelum mencapai puncak
gunun, roh harus melewati penjaga gerbang suci, Pere Konde yang sangat sakti. Mereka yang menentukan tujuan roh – roh tersebut pada
tiga danau yang berlainan warna. Apabila orang yang meninggal masih berusia muda
rohnya akan menuju danau yang berwarna hijau yang dalam bahasa daerah disebut “ tiwu ata muwa muri koo fai” atau danau untuk
pemuda dan pemudi. Letak danau ini bersebelahan dengan danau yang berwarna
merah darah yang disebut “tiwu ata Polo”
artinya danau untuk penyihir. Pere Konde
akan mengirim roh orang jahat, tukang teluh, santet atau suwanggi dan pembunuh
ke danau merah. Agak terpisah dari kedua danau itu terdapat satu danau yang
dulu berwarna putih susu, namun sekarang berwarna biru tua disebut sebagai danau
“Tiwu Ata Mbupu” atau danau untuk
orang tua
Masyarakat ini mendiami wilayah
pegunungan kabupaten Ende. Karakter wilayah pegunungan yang terletak di Ende
yakni kering dan gersang sehingga sangat
menyulitkan masyarakat untuk memperoleh air bersih. Keadaan alam ini secara
langsung memengaruhi masyarakat setempat untuk bekerja keras mempertahankan hidupnya.
Sebagian besar penduduk suku Lio yang menghuni wilayah pegunungan
bermatapencaharian sebagai petani dan menggantungkan hidup pada alam. Curah
hujan yang rendah di musin kemarau, membuat masyarakat harus bekerja ekstra
mencari air untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bagi masyarakat suku ini, air
bukanlah barang yang murah dan mudah didapat.
Selain karakter kerja keras, masyarakat suku Lio memiliki kepribadian
yang ramah. Keramahan masyarakat suku Lio tampak dalam bentuk ucapan maupun
perlakuan yang ditujukan kepada orang lain. Keramahan sikap masyarakat dalam
bentuk komunikasi lisan terkadang menimbulkan kesan terlalu terbuka/blak - blakan,
bagi mereka yang bukan berasal dari wilayah Flores. Komunikasi yang terbuka ini
merupakan bagian dari keramahan masyarakat setempat. Kesederhanaan hidup
merupakan salah satu ciri masyarakat tradisional yang bermukim di wilayah
pedesaan. Kesederhana tidak sama dengan kemiskinan. Kesederhanaan hidup adalah
cara menjalani hidup dengan tidak berkelimpahan atau berlebihan tetapi
menikmati apa yang ada dengan penuh keikhlasan hati. Konsep kesederhanaan ini
dapat ditemui dalam kehidupan masyarakat suku Lio.
Kesederhanaan masyarakat suku Lio
tampak dalam bentuk pola pikir maupun pola sikap. Kesederhanaan pola sikap
masyarakat suku Lio tampak dalam keseharian mereka yang selalu merasa bersyukur
dan menjalani hidup sesuai dengan kemampuan dan potensi diri yang ada, dan
tidak pernah merasa kekurangan. Maka tidak mengherankan jika antara anggota masyarakat
saling mengasihi dan menyayangi. Saling berbagi antar anggota kelompok tampak
dalam kehidupan mereka. Ikatan batin yang kental antara anggota komunitas
sangat erat, dikarenakan oleh fakta kekerabatan atau hubungan kekeluargaan. Salah
satu kepribadian yang menonjol dalam diri setiap individu adalah sikap pasrah. Sikap
pasrah yang dimaksud, bukanlah sikap malas ataupun sikap tidak mau berusaha,
tetapi sikap pasrah yang dimaksud adalah sikap menerima dan bersyukur segala
sesuatu yang dimiliki. Sikap ini, menuntun masyarakat ini hidup damai tanpa
merasa ada persaingan dalam hidup. Sikap ini pula yang membatasi masyarakat ini
untuk mengendalikan rasa ketidak puasan dalam hidup. Kesamaan konsep tentang nilai
oleh anggota masyarakat membentuk kesamaan sikap.
0 komentar: