“Terang telah datang
ke dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang”
Rasa percaya di kota-kota besar
merupakan suatu hal yang sangat mahal sekali.
Mungkin karena jarang kita alami, dan orang satu sama lain sudah merasa
tidak percaya. Saya ingat, karena kebiasaan saya suka bercanda maka orang tidak
percaya lagi kepada saya. Suatu saat saya tidak lulus ujian. Maka ketika banyak
orang bertanya “Bagaimana ? lulus ujiankah ? saya menjawab tidak. Semua orang
tidak percaya. Sudah sakit karena tidak lulus ujian, tetapi semua orang
menganggap saya bercanda. Semua orang tidak percaya karena kebiasaan hidup yang
saya bangun.
Ada sebuah cerita, konon ada
seorang penggembala domba yang selalu menggoda masyarakat di jalan yang
dilaluinya, suatu hari dia berteriak minta tolong bahwa ada serigala yang akan
menyerang domba-dombanya, masyarakat sekitar tergerak hatinya untuk membantu si
penggembala namun apa yang terjadi ? Dia hanya sekedar berteriak dan kemudian
meminta maaf kepada penduduk setempat bahwa tidak ada serigala maupun hewan
lain yang akan atau telah memangsa domba-dombanya, si penggembala melakukannya
lagi, dan pada hari ketiga ada seekor serigala hendak memangsa salah satu ekor
dombanya, kemudian dia meminta tolong penduduk setempat tetapi tak seorangpun
yang mau menolongnya karena mereka berpikir si gembala itu hanya bercanda saja,
dan akhirnya seekor domba dimangsa oleh si serigala tersevut. . Manusia telah
membangun kebiasaan hidup untuk tidak percaya satu sama lain. Bentuk-bentuk
kekeliruan di era sekarang ini membentuk manusia untuk tidak mempercayai satu
sama lain. Semenjak alam dan seisinya diciptakan, dosa selalu membuat manusia
tidak percaya atau sangsi akan Karya Sang Ilahi. Kita selalu diberi cinta
olehNYA dengan mengirim orang tanda-tanda khusus, tanda yang amat besar yaitu
Terang Abadi Sang Mesias. Akankah rasa percaya itu dapat kita tanamkan dalam
hati ? semoga saja.
0 komentar: