Jika kita cermati, apa yang
dilakukan oleh “Kamu” terhadap “Aku” ? Aku minta makan, minum, tumpangan,
pakaian dan sebagainya. Tetapi karena digerakkan oleh kepekaan “kamu” terhadap
situasi, keadaan, penderitaan dan kebutuhan “aku” dan sikap tanggapannya dalam
bertindak. Apa yang menyebabkan tokoh “kamu” mampu tampil peka dan tanggap,
padahal kebanyakan orang baru menolong sesudah dimitai tolong ?
sekurang-kurangnya, ada tiga keutamaan yang dimiliki “kamu” sehingga mampu
tampil begitu berkenan bagi guru sejati.
Pertama : Rasa ikut
bertanggungjawab terhadap yang lain, terhadap lingkungannya. Sikap ini
terbangun dari pemahaman bahwa seluruh ciptaan, alam semesta saling
berhubungan, saling mempengaruhi karena ada dalam satu kesatuan. Orang tidak
mungkin hidup dalam kesendirian tanpa orang lain. Orang tidak mungkin hidup
damai di lingkungan kumpulan orang lapar, miskin dan menderita. Setiap orang
ikut bertanggungjawab untuk menciptakan kesejahteraan hidup bersama yang
berkelanjutan.
Kedua : Kepakaan, yaitu kemampuan
untuk mengenali keadaan sekelilingnya, kemampuan untuk ikut merasakan apa yang
dialami orang lain atau empati. Kemampuan ini tumbuh jika orang tidak
mementingkan diri sendiri dan mau membuka mata dan hati terhadap yang lain dan
mau mearasakan apa yang dirasakan oleh orang lain “ALE RASA BETA RASA”.
KETIGA : Tanggapan untuk berbuat.
Tahu saja tidak cukup. Orang perlu membuktikan apa yang dipahami dan
diketahuinya dalam tindakan, sebab jika tidak, sia-sia semuanya itu. Orang macam
ini punya keteguhan dan ketetapan hati untuk bertindak sesuai dengan
keyakinannya. Dibutuhkan orang yang peduli untuk ikut bertanggungjawab, peka
dan tanggap terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain dan lingkungannya. Jadi
peka dan tanggap adalah suatu kewajiban kita sebagai manusia.
0 komentar: