Banyak orang yang sangat
menderita hidup berdampingan di antara kita. Fakir miskin, orang miskin dan
orang hampir miskin. Selain itu terdapat
pula orang yang tiba-tiba menjadi miskin dan menderita karena bencana alam
seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor dan
kekeringan. Bencana sosial pun seperti konflik sosial dapat menyebabkan banyak
orang menderita. Di banyak tempat kita menemukan juga para penyandang cacat,
gelandangan, pengemis, tunasusila, pengidap penyakit HIV/ AIDS, pecandu atau
penderita narkoba, dan lain sebagainya. Sementara itu kita sendiri melihat “ Ada seseorang yang selalu berpakaian jubah
ungu dan kain halus dan setiap hari ia bersukacita dalam kemewahan” (Luk 16:19)
Hedonisme, konsumerisme sangat kuat dalam diri kita sehingga kita lupa memberi
perhatian kepada orang – orang itu. Kita lebih cenderung menyerahkan
tanggungjawab kepada pemerintah dan yayasan-yayasan sosial untuk mengatasi
persoalan ini. Apa yang kita sendiri lakukan ?
Orang yang mengalami kebahagiaan
justru karena mereka memberikan milik, harta, perhatian, kasih bahkan seluruh
hidupnya bagi para penderita ini. Kebahagiaan diperoleh justru dengan
memberikan bukan dengan menerima, menimbun, mengumpukan, menimbun penuh sesak
sampai berbau dan berpenyakit.
Egosime dan konsumerisme sekarang
ini sangat mencekam dan memenjarakan kita. Banyak orang hidup dalam penjara
materialisme dan individualisme. Akibatnya mereka mereka mengalami kebahagiaan
semu, fiktif dan khayalan. Mereka hidup seolah-olah bahagia namun mereka
sendiri menciptakan neraka bagi dirinya sendiri. Perlahan-lahan mereka
mengucilkan diri dari persekutuan dengan Allah dan sesama.
Sederhana saja, beberapa orang
kaya yang egois sebelum meninggal dunia, mereka menderita banyak penyakit,
diadili dan masuk penjara, difitnah, dicercah dan dikucilkan. Perlahan-lahan
pribadinya membusuk, hidupnya tak bermakna, dilupakan orang bahkan dikutuk
keluarganya.
Maka benar kata Luk 16:25 tentang orang kaya dan
Lazarus.
0 komentar: