Saturday, 3 October 2015

STRATEGI TIKUS

by bennyfasak  |  in Stories at  08:54



Pada suatu malam, saya dibangunkan oleh istri katanya, “ Pa, Bangun ! ada orang. Saat itu kira-kira pukul 02.30 dini hari. Dia benar-benar ketakutan sampai badan saya digoyang-goyang dan hampir terjatuh ke lantai, pikiran saya sudah sadar akan tetapi untuk membuka mata, seperti dilem. Akhirnya saya berusaha untuk buka mata dan bertanya : Ada apa bu ? ada suara orang yang mengungkit pintu, jawab istri saya dengan pelan.
Setelah saya perhatikan dengan seksama, benar yang dikatakannya. Ada suara seperti seseorang yang berusaha untuk membuka pintu kamar. Saya merinding juga khawatir kalau-kalau ada orang yang berbuat jahat. Kemudian saya memberanikan diri untuk lebih dekat lagi ke asal suara itu. Setelah mendekat suara itu berhenti dan tampak seekor tikus bergoyang-goyang, dia cepat melarikan diri begitu melihat saya mendekat.  Sayapun bergegas tidur.
Keesokan harinya saya melihat pintu bagian bawah berlubang dan di lantai berserakan serpihan kayu bekas gerogotannya. Upaya tikus itu adalah sebuah strategi yang digunakan sebagai jalan masuk. Bukan bermaksud menyamakan manusia dengan tikus, tetapi hanya sekedar contoh. Tikus saja punya strategi untuk mencapai sesuatu. Apalagi seorang guru ? sudah tentu guru memiliki strategi mengajar yang jitu untuk proses pembelajaran di kelas.
Strategi dari setiap usaha akan mencakup empat hal, antara lain :
1.       Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi hasil seperti apa yang akan dicapai
2.       Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan yang sesuai untuk mencapai sasaran
3.       Mempertimbangkan dan menetapkan langkah yang akan digunakan
4.       Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria tolak ukur
Berkenaan dengan itu guru sebagai pelaku atau aktor utama harus mampu mempertimbangkan empat hal tersebut sehingga dia akan dapat menyampaikan materi sesuai dengan target yang telah dicanangkan secara efektif dan efisien. Guru juga mesti mampu mendesain dan mempraktekan strategi pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa-siswi senang belajar. Jika mereka senang maka otomatis daya serap mereka akan tinggi dan meningkat dan suasana pembelajaran akan menjadi kundusif. Maka tidak heran bahwa guru seperti itu selalu dirindukan oleh siswa-siswinya.

0 komentar:

Powered by Blogger.
Proudly Powered by Blogger.