Cinta itu buta ? Memang cinta itu
tidak bermata, Tapi tidak pula buta, Karena kitalah mata itu, Mata yang
letaknya di hati, namu kadangkala kita menabrak batas-batas cinta itu.
Milikilah cinta itu dengan penuh kelembutan, kesabaran dan sederhanaan, jangan
memilikinya dengan penuh kecurangan yang hanya mengejar nafsu belaka. Sehingga cinta itu akan menjadi murni. Tetapi tidak
demikian seperti yang dilalui oleh
IA, MEJA dan WONGGE. Pertemuan antara “Wongge”
dan “Meja” tumbuh rasa cinta yang dalam
di antara mereka. Cinta mereka bersemi tanpa dapat dibatasi jarak dan waktu.
Konon cerita di atas terjadi di
pulau Flores yang terkenal dengan nama “ Nusa Bunga” itu. Tiga aktor di atas
adalah tiga nama gunung yang terletak di kota Ende. Cinta antara WONGGE dan MEJA
diam – diam dinodai oleh MEJA, karena terbujuk oleh IA, “Mengapa kamu tidak
memilih saya saja, saya lebih bersih dan juga dekat denganmu daripada Wongge ”(teapa kau iwa pirhi ja’o, ja’o soo masa we’e
warhi nee kau) kata IA. Namun MEJA
menolak atas dasar cintanya kepada WONGGE, setiap ada kesempatan MEJA selalu
dibujuk dan dirayu oleh IA, akhirnya MEJA menduakan WONGGE.
Pada suatu kesempatan WONGGE ingin
mengunjungi kekasihnya itu, sesampainya di sana, WONGGE sangat terkejut karena kekasihnya
sedang berduaan dengan IA. “Siapa ini “(sai
na) Tanya WONGGe kepada kekasihnya itu, namun IA berdiri dan menjawab bahwa
“Saya calon suaminya” ( ja’o calon aki
kai) kata IA. Akhirnya WONGGE pamit pulang.
Hari berganti hari, bulan
berganti bulan, WONGGE kembali ke rumah kekasihnya itu dan ingin memastikan apa
sebenarnya yang telah terjadi antara MEJA dan IA. Di sela-sela itu, MEJA
mengundang juga IA supaya permasalahan ini segera selesai. Apa yang terjadi
selanjutnya ?
MEJA menolak WONGGE dan lebih
memilih IA. IA tahu bahwa WONGGE sangat
mencintai MEJA, akhirnya IA dan WONGGE berencana menghabisi MEJA. Kesempatan itupun
tiba, IA menebas kepala MEJA, kepala MEJA jatuh di sebelah timur dan menjadi
sebuah pulau yang diberi nama pulau Koa, pulau ini berbentuk kepala dan
parangnya itu menjadi pulau Ende. Coba perhatikan gunung MEJA, di atas puncak gunung
rata berbentuk Meja, dan pulau Ende berbentuk Parang.
Pulau Ende berbeda dengan kota
Ende. Pulau Ende terletak di depan kota Ende.
0 komentar: